Di tengah lautan game fantasi yang sering kali berpusat pada pahlawan dengan kekuatan luar biasa, Wartales hadir sebagai antitesis yang menampar kenyamanan tersebut. Game ini tidak menempatkanmu sebagai penyelamat dunia, raja besar, atau anak terpilih dari ramalan. Sebaliknya, kamu hanyalah pemimpin altogel sekelompok tentara bayaran yang berusaha bertahan hidup di dunia keras pasca-keruntuhan kerajaan. Dan inilah yang membuat Wartales begitu menggugah—kejujuran brutalnya.
Dikembangkan oleh Shiro Games (pengembang di balik Northgard dan Evoland), Wartales adalah game open-world tactical RPG yang menantang pemainnya untuk membuat keputusan sulit, mengelola sumber daya terbatas, dan menavigasi sistem moral abu-abu dalam dunia yang sunyi dan tanpa belas kasihan.
Lebih dari sekadar petualangan, ini adalah sebuah simulasi hidup—di mana kelaparan, penyakit, kelelahan, dan pengkhianatan bisa membunuh jauh lebih cepat dari pedang musuh.
Dunia Hutan dan Debu yang Tak Lagi Punya Raja
Wartales mengambil latar di dunia bernama Edoran, wilayah luas yang hancur akibat wabah besar dan keruntuhan kekuasaan pusat. Tidak ada struktur kerajaan atau tatanan sosial yang tersisa. Kota-kota kecil bertahan sebisanya, bandit berkuasa di jalanan, dan rakyat biasa hanya mencoba hidup dari hari ke hari.
Kamu memimpin sebuah kelompok kecil mercenary—bisa terdiri dari prajurit, pencuri, pemanah, alkemis, hingga penebang kayu. Mereka bukan pasukan elit, melainkan orang-orang biasa yang tidak punya tempat di dunia selain menjual pedang mereka kepada yang mampu membayar.
Yang menarik, Wartales tidak memiliki protagonis utama. Tidak ada satu karakter pun yang ditulis sebagai tokoh pusat. Semua anggota kelompokmu adalah karakter buatanmu sendiri, dengan latar belakang, sifat, dan hubungan yang berkembang selama perjalanan. Ini menciptakan ikatan emosional yang unik. Ketika seorang teman lama meninggal karena racun atau dibunuh dalam baku hantam, kamu akan benar-benar merasakannya.
Sistem Pertarungan Turn-Based yang Taktis dan Sadis
Pertarungan dalam Wartales menggunakan sistem turn-based tactics klasik dengan medan tempur berbasis grid, tetapi memiliki dinamika yang sangat realistis dan brutal. Tidak ada skill flashy atau efek bombastis di sini—hanya pedang, panah, kapak, tombak, dan darah.
Setiap karakter memiliki Action Points yang digunakan untuk bergerak atau menyerang. Namun yang membuat sistem ini menantang adalah pengaruh terrain dan positioning. Serangan dari belakang menghasilkan lebih banyak damage, area sempit bisa menjadi jebakan, dan serangan area bisa menyakiti teman sendiri jika tak hati-hati.
Karakter bisa terkena status efek fisik realistis seperti patah tulang, pendarahan, atau tertusuk racun. Efek ini tidak hanya memengaruhi pertempuran saat itu, tapi juga membawa dampak jangka panjang—membuat karakter harus istirahat, mengonsumsi obat mahal, atau bahkan menjadi tidak efektif secara permanen.
Tak ada sistem “level-up otomatis”. Kamu harus benar-benar memilih bagaimana setiap karakter berkembang—apakah kamu ingin mereka menjadi ahli serangan cepat, atau tank defensif yang mampu menyerap damage. Pilihan ini akan memengaruhi seluruh strategi kelompok.
Survival di Jalanan: Kelaparan, Moral, dan Keputusan Sulit
Yang membedakan Wartales dari game RPG lainnya adalah elemen survival yang sangat menonjol. Kelompokmu membutuhkan makanan setiap malam. Jika kamu tidak membawa cukup perbekalan, mereka akan lapar, moral jatuh, dan bisa kabur atau memberontak.
Kamu juga harus membayar gaji pasukan. Jika kamu terlambat membayar, mereka tidak akan segan-segan meninggalkanmu. Ini menciptakan ketegangan luar biasa, karena sering kali kamu harus memilih: apakah kamu akan menyerang kafilah pedagang untuk mencuri makanan dan emas, atau menjaga kehormatan dan menanggung resiko mati kelaparan?
Setiap pilihan punya konsekuensi. Membunuh penduduk desa bisa memberimu sumber daya, tapi menurunkan reputasi. Membantu faksi tertentu bisa memberimu perlindungan, tapi memicu perang dengan yang lain. Wartales tidak memberi tahu mana yang benar atau salah—hanya menunjukkan akibat dari tindakanmu.
Ini bukan sistem moral ala “paragon vs renegade”, tapi lebih seperti dunia nyata: terkadang kamu harus membuat keputusan yang buruk untuk bertahan hidup.
Dunia Terbuka yang Didesain untuk Eksplorasi Lambat dan Dalam
Peta dunia Wartales luas dan dibagi ke dalam beberapa region yang bisa kamu jelajahi sesuka hati. Tidak ada sistem level gating seperti game open world lain. Kamu bisa langsung menjelajah ke daerah berbahaya sejak awal—dan mati mengenaskan jika tidak siap.
Setiap wilayah punya nuansa dan cerita sendiri: pegunungan yang dikuasai kultus, hutan yang dipenuhi pemburu gelap, padang tandus dengan mayat-mayat tentara yang tertinggal. Masing-masing wilayah memiliki quest organik—tidak ditandai dengan tanda seru, tapi ditemukan lewat obrolan, interaksi, dan eksplorasi.
Kamu bisa menemukan reruntuhan kuno, menjarah kuburan, menyelesaikan teka-teki lingkungan, atau bahkan menjadi pemburu hadiah dan berburu target tertentu. Namun ingat, semua ini menyita waktu, energi, dan logistik. Kamu perlu memastikan bahwa kelompokmu cukup sehat, senjata terawat, dan makanan tersedia sebelum menjelajah jauh.
Aspek perjalanan ini menciptakan nuansa real-time travel simulator yang penuh ketegangan. Bahkan malam yang terlalu panjang bisa membuatmu disergap serigala atau bandit.
Pengembangan Karakter yang Organik dan Terhubung
Salah satu aspek terbaik Wartales adalah bagaimana karakter berkembang secara naratif dan mekanis. Karakter tidak hanya naik level dan mendapatkan stat baru, tapi juga mengembangkan hubungan—bisa menjadi teman dekat, rival, atau bahkan kekasih.
Hubungan ini memengaruhi performa tempur dan morale. Dua karakter yang berteman akan melindungi satu sama lain, sementara dua rival mungkin saling bersaing dan membuat keputusan saling bertentangan saat kamu sedang menentukan arah kelompok.
Setiap karakter juga memiliki trait acak seperti pemabuk, pemalu, temperamental, atau rajin—dan trait ini bisa berubah tergantung pengalaman mereka. Misalnya, karakter yang sering selamat dari serangan kritis bisa mengembangkan sifat “Unbreakable” yang meningkatkan daya tahan mental.
Inilah mengapa kehilangan satu anggota bukan sekadar kehilangan unit. Itu adalah kehilangan bagian dari identitas kelompokmu.
Sistem Kerajinan dan Profesi yang Mendalam
Ekonomi dan pengembangan dalam Wartales juga berputar pada sistem profesi. Karakter bisa menjadi tukang besi, penjahit, pemburu, atau pencuri. Setiap profesi membuka akses ke alat, crafting, dan kemampuan unik yang membantumu bertahan.
Misalnya, tukang besi bisa membuat senjata atau armor dari bahan mentah, sementara pencuri bisa membuka peti dan mencuri barang tanpa diketahui. Profesi bukan hanya kosmetik, tapi fondasi ekonomi dan mobilitas kelompok.
Kamu juga bisa membangun kemah dan memperluasnya dengan tenda pengobatan, bengkel, dapur, dan lainnya. Ini menjadi pusat manajemen kelompok dan tempat kamu merencanakan perjalanan berikutnya.
Visual, Atmosfer, dan Presentasi Dunia yang Kelam
Wartales menggunakan gaya visual semi-realistis dengan palet warna kelabu, cokelat, dan tanah yang memperkuat tema dunia yang rapuh dan suram. Animasi pertarungan kasar dan realistis, tanpa efek berlebihan. Kamera isometrik memudahkan pengelolaan kelompok, sementara musiknya minimalis namun atmosferik—mengisi kesunyian dunia yang sudah kehilangan harapan.
Efek suara, seperti gemerisik daun saat kamu melewati hutan, atau jeritan tentara yang kehabisan darah, menambah kedalaman emosional dan imersif dari permainan.
Kesimpulan: RPG Taktis yang Mendorongmu Memikirkan Etika Bertahan Hidup
Wartales bukan untuk semua orang. Ini adalah game yang lambat, menantang, dan tidak memberi kepuasan instan. Namun bagi mereka yang ingin merasakan realitas dunia pasca-keruntuhan, penuh dilema moral, strategi bertahan hidup, dan ikatan karakter yang kuat—game ini adalah permata langka.
Ini adalah kisah tentang orang biasa yang mencoba hidup di dunia yang luar biasa sulit. Dan mungkin, dalam prosesnya, mereka menemukan bahwa menjadi pahlawan bukanlah soal menyelamatkan dunia—tapi soal menjaga temanmu tetap hidup satu hari lagi.

